Duhai pencinta yang kehilangan kesabaran karena api kerinduan
Tak ubahnya engkau sepertiku yang menderita karena terbakar api cinta
Bangkitlah engkau dari tempatmu yang menjemukan itu
Menuju ke pelaminan di mana mempelaimu telah menunggu
Bangkitlah engkau, karena telah tiba masanya
Engkau rengguk anggur kenikmatan setelah lama mengalami penderitaan
Bangkitlah engkau, karena lilinmu ini serupa denganmu yang tak sabar menunggu
Ia menderita sepertimu karena terbakar lamanya waktu menunggu
Sudahlah, cukup engkau sepertiku, yang meleleh terbakar
Yang menangis saban hari dan menumpahkan segala isi hati
Sungguh, cahaya yang sempat hilang dari hatimu
Kini telah kembali di hadapanmu
Hempaskan jiwamu kepadanya
Seperti kupu-kupu terhempas karena mabuk cinta
Duhai pengelana
Telah jauh kakimu melangkah
Menuju akhir perjalanan yang engkau inginkan
Tuhan telah memudahkanmu dalam menggapai impian-impianmu
Ini dia pujaanmu yang berjalan sendiri menuju arahmu
Akhir perjalananmu telah mendekatimu
Duhai perindu berselimut kebahagiaan
Bangkitlah agar engkau dapat menyambut dan menerimanya
Agar engkau dapat menemani dan merengkuhnya
Duhai perindu yang selalu dahaga
Bangkitlah, karena cawan-cawan itu telah menari-nari
Dan perasan-perasan anggur di dalamnya telah menanti
Novel Mamo-Zein
cuitcuitcuit..
ekiiiiiiii,, ternyata kau jadi puitis skrg ya ki..
ihiyyy,, prikitwww…
:p
Posted by Ochie Putri | August 5, 2010, 9:19 amhahha .. udh lama kok :p
Posted by ekisays | November 21, 2010, 3:56 pmwah bagus sekali.. apakah itu karya sendiri atau diambil dari novel yang tertulis di situ? Novel Mamo- Zein?
salam
Posted by 'Ne | November 23, 2010, 5:52 pmdari novel Mamo-Zein nya ..
ini novelnya sepertinya pujangga sekali, sy banyak menemukan kata2 yang indah
salam
Posted by ekisays | November 23, 2010, 10:14 pmwah wah wah… mantap pujangga
teruskan kegelisahan di hatimu…. tuliskanlah semuanya
Posted by dhedhi | January 28, 2011, 3:14 pm