jobseeker

Memilih atau dipilih?
Menunggu atau ditunggu?

Ya, sebagai jobseeker, hal tersebut lumrah terjadi. Sebenarnya ini tulisan saya dulu yang belum selesai dikerjakan, jadi tidak ada salahnya juga kan kalau saya lanjutkan πŸ˜€Β Saya akan bercerita tentang pengalaman saya dulu ketika menjadi jobseeker kawakan. Hehehe.

Dulu sekali, saya pernah menjadi jobseeker dalam waktu yang relatif lama. Apakah saya malu? Apakah saya down? Ya jawabnya sih: terkadang down. Tapi kalau malu? No way. Satu hal yang terpenting yang harus Anda tanamkan: jangan pernah malu jadi jobseeker!

Dulu, saya tidak mau menjadi jobseeker yang rata-rata, harus menjadi Jobseeker yang punya patokan nilai yang tinggi. Saya memiliki beberapa prinsip dalam menjadi seorang Jobseeker kawakan, di antaranya:

  1. Saya hanya mau bekerja di Perusahaan yang terdepan di bidangnya, karena dengan menjadi bagian dari Perusahaan yang besar, insyaAllah kita juga memajukan knowledge skill kita
  2. Saya sengaja ikut tes di satu perusahaan kecil untuk pertama kali, dengan tujuan agar mengetahui cara-cara dan skema soal psikotes dan wawancara. So, step ini akan memberikan kita gambaran terhadap skema seleksi calon pegawai di Perusahaan yang “sebenarnya” yang ingin kita tuju
  3. Pertahankan semangatmu. Karena biasanya kalau semangat udah loyo, ya hasilnya juga loyo
  4. Jangan manja! Saya dulu bolak balik jakarta-bandung untuk tes, malah pernah ngejar seleksi sampai tes di Medan. Di jakarta pun, jangan pernah manja! jangan sedikit-sedikit harus minta antar, harus ini, harus itu. Hey, rasakan nikmatnya jadi jobseeker dengan kegigihanmu. Karena percayalah, kegigihan itu yang akan membawa kita ke gerbang kemenangan.
  5. Percayalah pada kemampuanmu. Jangan pernah gunakan “orang kuat”, jangan pernah pakai “pelicin”. Just be yourself. Akan sangat membanggakan jika Anda lulus dengan kemampuan Anda sendiri πŸ™‚
  6. Telusuri baik-baik perusahaan Anda, apakah akan bagus prospek ke depannya πŸ˜€
  7. Oia, satu hal. Ketika teman-teman Anda sudah pada lulus bekerja di Perusahaan yang bagus, sementara Anda masih terus mencari kerja, jangan sungkan untuk meminta tips kepada temen Anda, dan tetapkan keteguhan pada diri Anda bahwa Anda juga bisa seperti mereka, BAHKAN LEBIH BAIK! **kok kayak mario teguh ya? hehe
  8. Perhatikan kontrak kerja Anda. πŸ˜€
  9. Jangan cuma melamar di satu perusahaan! Cari perusahaan besar lainnya sebagai backup system πŸ˜€ haha

Sedikit point tentang pengalaman saya mencari kerja dulu (ini cuma kejadian-kejadian yang saya ingat saja, hehe):

  1. Saya nganggur selama kurang lebih 6 bulan
  2. Saya mengikuti tes di 2 perusahaan besar selama masing-masing 3 bulan tes
  3. Saya harus bangun subuh, dan menaiki KRL ekonomi, dan gantung pula di pintu KRL nya demi ngejar kesempatan mengikuti tes
  4. Saya harus merogoh kocek dalam-dalam ketika harus lintas kota untuk tes
  5. Saya akhirnya lulus di beberapa perusahaan besar dengan posisi kerja yang baik setelah mengikuti tes berbulan-bulan, dan akhirnya harus memilih salah satu dari Perusahaan tersebut. Tetapi tetap lebih baik memilih daripada dipilih! πŸ˜€
  6. Saya memiliki keluarga, kekasih, dan teman yang baik yang selalu mendorong saya menjadi lebih baik πŸ™‚

Anda punya kisah tentang jobseeker? Atau punya tips-tips seputar mencari kerja? Kita share yuk πŸ™‚

Eidetic Memory

Eidetic Memory, atau juga disebut Photographic Memory, adalah kemampuan untuk mengingat gambar, suara, atau objek lain dengan tingkat akurasi yang tinggi. Biasanya, eidetic memory adalah bawaan dari lahir, dan bukan berdasarkan pembelajaran. Tapi saya sendiri menganggapnya bahwa setiap orang memiliki kemampuan ini, hanya saja berbeda-beda kualitasnya. Sebenarnya, bisa saja kita fokuskan pikiran dengan satu hal, dan berusaha mengingatnya. Tapi mungkin, usaha tiap-tiap orang untuk benar-benar 100% correct dapat berbeda-beda. Ada yang butuh fokus 30 detik saja, atau ada yang 1 menit, bahkan berjam-jam mungkin. Bukan hanya faktor durasi yang menentukan, bisa juga dari korespondensi hal tersebut dengan orang yang dites, dan lain sebagainya.

Diambil dari tulisannya ibu Juliavantiel

Alan Searleman, a professor of psychology at St. Lawrence University in New York, says eidetic imagery comes closest to being photographic. When shown an unfamiliar image for 30 seconds, so-called “eidetikers” can vividly describe the imageβ€”for example, how many petals are on a flower in a garden scene. They report “seeing” the image, and their eyes appear to scan across the image as they describe it. Still, their reports sometimes contain errors, and their accuracy fades after just a few minutes. Says Searleman, “If they were truly ‘photographic’ in nature, you wouldn’t expect any errors at all.”

While people can improve their recall through tricks and practice, eidetikers are born, not made, says Searleman. The ability isn’t linked to other traits, such as high intelligence. Children are more likely to possess eidetic memory than adults, though they begin losing the ability after age six as they learn to process information more abstractly. Although psychologists don’t know why children lose the ability, the loss of this skill may be functional: Were humans to remember every single image, it would be difficult to make it through the day.

Dapat dari temen di kaskus, dia bilang

kemaren dicritain ayahku, pasiennya, anak autis seumuran sd, dia abis pegang peta jakarta punya ayahnya, trz tau2 ambil sepeda. ngilang seharian. sampe2 ortunya pada panik. pas sore2 tau2 dia pulang dgn wajah innocent gt. tau ga dia darimana? muter2 jakarta seharian, naek sepeda, sendirian. n ga keblasuk, alias sampe rumah jg.

Nah, itu merupakan contoh paling nyata dari eidetic memory. Kemampuannya menangkap gambar sangat baik, sehingga ia dapat hanya dengan “menerawang”, sudah seakan-akan memiliki peta tersebut di tangannya. Padahal sebenarnya, ngebaca peta juga susah buat nemu jalan pulang tuh, apalagi ama anak SD.

Satu lagi, dapat dari wiki, contoh manusia dengan gift ini adalah Pak Soekarno.

Sukarno, the father of Indonesian independence and the first president of The Republic of Indonesia, had a photographic memory, which helped him in his language learning.

Saya sendiri, biasanya menggunakan yang seperti ini untuk menghapal ayat-ayat AlQuran, soalnya kan ada yang tajwid dan lainnya yang beda-beda, jadi biasanya kayak menerawang halaman tempat ayat itu ada, terus jadi seperti tinggal membaca saja, walaupun lebih sering salahnya.

Saya tes ya.. : 1478395687591758935682947293. Silakan diingat selama-lamanya, bisa diucapkan kembali ga? Kalau saya sih, hmm, ga (baca: akan) bisa. Hehe

Few links: 1, 2, 3, 4, 5, 6, photographic memory game