pmrehab

Di masa liburan lebaran ini, fenomena yang mungkin setiap tahun berulang adalah kerepotan akibat pembantu mudik. Banyak pekerjaan rumah yang mungkin tidak terbiasa terpaksa harus dikerjakan sendiri. Peningkatan aktivitas mendadak seperti ini beresiko menimbulkan resiko nyeri pinggang, nyeri lutut ataupun nyeri di kaki terutama di tumit. Mungkin tingginya angka pekerja kantoran yang ditinggal mudik pembantunya berbanding lurus dengan kejadian nyeri tersebut.

Nyeri tumit yang paling umum disebabkan oleh plantar fasciitis. Kondisi ini terjadi karena adanya microtrauma berulang pada struktur jaringan ikat penopang lengkungan kaki. Sehingga terjadi iritasi dan inflamasi yang menimbulkan nyeri. Masalah yang timbul akibat nyeri tumit ini adalah pasien berjalan dengan timpang atau hanya menginjakkan bagian depan kaki saja. Bila ini terjadi, titik tumpu berat badan tubuh akan berpindah bukan di tempat semestinya. Ujung-ujungnya timbul efek domino dimana lutut, panggul dan pungguh bawah beresiko mengalami cedera.

Plantar fascia sendiri sebenarnya adalah jaringan ikat di bagian bawah kaki yang…

View original post 510 more words

Mengatur Keuangan Ala Eki

Nah, kita lanjut celotehan tentang keuangan. Banyak dari kita mungkin yang menemui bahwa ternyata dompet sering menipis di akhir bulan. Dan saya yakin juga bahwa beberapa dari kita hidupnya ditentukan oleh tanggal. Tanggal muda dan tanggal tua. Gak baik itu mah, ayo ditinggalkan! πŸ˜€

Nah, menyikapi hal itu, saya mencoba mengatur keuangan dengan baik. Good Finance. Walaupun sebenarnya saya tidak terlalu suka berhemat. Saya jauh lebih suka berusaha meningkatkan income dibanding harus berhemat hebat dan mencoba menipu diri sendiri kalau ternyata penghasilan kita segitu-segitu saja.

Berikut perjalanan saya dalam menyikapi hal ini. Simak.

1. Menemukan fakta nyata income dan expense kita per bulan.

Hal ini berguna agar kita mengetahui range kemampuan kita per bulannya. Nah, untuk yang ini, saya menggunakan aplikasi My Wallet +. Lebih mudah, dan cepat.

2. Jangan mengambil uang untuk pengeluaran kita secara sekaligus dari bank. Semakin sedikit uang di tangan, semakin mudah mengelolanya.

3. Kita anggap pengeluaran kita 2 juta per bulan dan pemasukan 3 juta per bulan.

4. Nah, caranya adalah: ambil 1 juta dari bank. Simpan baik-baik. Gunakan 1 juta itu dalam setengah bulan pertama.

5. Setelah masuk tanggal 15, ambil lagi deh yang 1 juta sisanya dari bank. Gunakan itu dalam sisa bulan Anda.

6. Good News! Anda telah saving 1 juta tiap bulannya.

7. Tapi kayaknya kita tidak bisa hidup hanya dengan saving sedimikian kecil uang tiap bulannya. Akan saya bahas di celotehan berikutnya. πŸ˜‰

Dengan memegang uang ala kadarnya, dan menjauhkan Kartu Debet dan Kartu ATM serta credit card, bisa dibilang ini sebagai latihan kita untuk menahan nafsu pemborosan.

p.s. Saya tidak menyarankan Anda untuk melakukan hal itu secara terus menerus, karena sama saja menghambat kenikmatan hidup Anda. Tapi lakukan ini untuk membatasi nafsu boros Anda untuk hal-hal yang tidak perlu. Dan kalaupun mau boros, mending boros di sedekah. πŸ™‚

Seikhlasnya

“ini mas, udah selesai, dikasih seikhlasnya ya..”

Sering mendengar kalimat tersebut? Saya cuma menanggapi dengan senyuman dan sedikit pertanyaan, hanya dalam hati memang: bukannya dia sudah digaji?

Seikhlasnya bukan berarti suap, dan saya juga tidak menafsirkannya dengan sogokan, terkecuali beda konteks. Untuk perkataan ikhlas yang saya maksud, dapat dibagi menjadi 2 kelompok:

1. Ikhlas bukan pelicin

Kita sudah mengikuti proses yang diberikan, tetapi tetap saja harus membayar, walaupun seikhlasnya. Dalam arti lain, untuk satu ini kita benar-benar dipaksa ikhlas untuk memberikan hal yang sebenarnya tidak perlu.

2. Ikhlas melicinkan

Nah, untuk yang satu ini, kita memang ibarat memberikan suap. So, no need further information. Don’t do this too often.

Anda sering mengalaminya? Saya sih sering.